Ular dan segala hal mengenainya yang harus kalian tau



Apa sih yang ada di benak kalian saat mendengar kata "ular"? 

        Aku percaya jawabannya bakal variatif sekali. Mereka dengan sisik yang memenuhi seluruh tubuhnya, caranya khasnya dalam bergerak, lidahnya yang keluar masuk, dan dengan sorot mata tanpa disertai kedipan, membuat pendapat dan opini mengenai hewan ini sangat beragam dari mulai yang sangat takut padanya hingga yang sangat menyukainya. Yuk kita kenalan lagi sama hewan luar biasa ini.

Simbol medis
        Keberadaan ular dan hubungan manusia sudah terbentuk berabad-abad lamanya. Ular pun banyak dijadikan simbol oleh manusia. Meski begitu, simbol ular ini memiliki dua makna yang berbeda seperti dua sisi pada koin, ada yang menganggap ular sebagai lambang dari sifat jahat, sihir, bahkan kematian namun di sisi lain ada yang menganggap ular sebagai simbol keabadian juga kesembuhan, seperti yang kita ketahui ular digunakan sejak dahulu sebagai simbol medis baik di Indonesia ataupun di dunia Internasional pada simbol ini ular digambarkan melilit mangkuk Hygeia atau tongkat Asklepios, keduanya adalah dewa dan dewi kesembuhan dalam mitologi Yunani. 

        Terlepas dari hal tersebut, adanya ketakutan pada sosok ular adalah hal yang wajar dan dapat sangat dimengerti. Beberapa spesies ular memang berbisa dan mampu untuk menghilangkan nyawa manusia.Sekitar 627 kasus gigitan ular di Indonesia terjadi selama tahun 2020 dan 62 orang diantaranya meninggal dunia. Namun mari kita lihat sudut pandang lain, resiko gigitan ular ini sebetulnya masih jauh lebih rendah dari resiko DBD yang diakibatkan oleh dua jenis nyamuk. Menurut data Kemenkes di tahun 2020 terjadi 95.893 kasus dan 661 diantaranya meninggal dunia sekitar sebelas kali lipat dari resiko meninggal akibat gigitan ular. Apalagi jika kita lihat angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas, berdasarkan informasi dari Kominfo rata-rata 3 orang meninggal setiap jamnya di Indonesia. Data ini tentu menunjukan resiko yang sangat jauh berkali-kali lipatnya.

        Ular adalah reptil bertubuh panjang, tidak mempunyai kelopak mata, memiliki tubuh yang seluruhnya ditutupi sisik. Semua ular tidak memiliki kaki depan, namun pada boa dan piton mereka memiliki taji panggul yang dipercayai sebagai sisa-sisa dari kaki belakang. Ular dapat menelan mangsa yang lebih besar dari ukuran kepalanya karena kulit yang elastis serta rahang bawah yang terpisah dan dapat bergerak secara sendiri-sendiri. Hal ini sangat membantu ular yang tidak bisa mencabik dan harus menelan mangsanya secara utuh.

        Sementara itu ular juga memiliki organ indera yang sangat berbeda dari mamalia. Mereka tidak punya telinga eksternal, namun mereka memiliki telinga internal yang sangat baik, sehingga mereka dapat mendeteksi getaran. Pada indera pengelihatan sendiri, ular memiliki pengelihatan yang cukup baik terlepas apa yang banyak orang katakan. Bahkan pada ular pohon seperti genus Ahaetulla, mereka memiliki pengelihatan yang sangat baik ditunjang dengan pupilnya yang vertikal. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa ular memiliki pengelihatan dichromatic atau bisa melihat dua warna utama pada siang hari sedangkan di malam hari mereka memiliki pengelihatan monochromatic atau dapat melihat satu warna saja. 

Pupil vertikal pada Ahaetulla sp.

        Semua ular memiliki lidah bercabang yang keluar masuk dengan fungsi untuk mendapatkan dan mengirimkan molekul disekitarnya kepada organ vomeronasal yang lebih dikenal dengan sebutan organ Jacobson dibagian atas mulut mereka. Hal ini membantu ular untuk menentukan keberadaan mangsa atau pasangan. Perlu diketahui bawha ular tidak memerlukan lidahnya untuk mencium, karena hidungnya sendiri sudah dilengkapi dengan saraf olfaktori yang sensitif. Beberapa ular seperti boa, piton dan pit viper yang memiliki makanan utama hewan endotermik, memiliki sensor panas yang membantunya menemukan mangsa dalam keadaan gelap gulita. Organ sensor ini berfungsi seperti infrared suhu tubuh mangsanya.


Sensor panas pada piton pohon hijau (Morelia viridis)

        Sampai tulisan ini dibuat ada lebih dari 3.700 spesies ular di dunia yang diketahui, masing-masing dengan ciri khas dan keunikannya sendiri. Tidak memiliki kaki bukan menjadi hambatan untuk ular dalam bertahan hidup, bahkan ular adalah salah satu hewan yang paling sukses dalam bidang ini. Berdasarkan fosil yang ditemukan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan Portugal, ular pertama yang diketahui diperkirakan hidup sekitar 167 - 140 juta tahun yang lalu di awal periode kapur. Berhasil bertahan hingga kini mereka menjadi reptil modern yang sukses dan menunjukan sangat mampu beradaptasi dengan lingkungannya, hal ini dapat dilihat dengan kemampuan mereka yang walaupun tanpa kaki tidak menjadi hambatan untuk mereka, beberapa diantara mereka dapat memanjat dengan sangat baik, bukan hanya di pohon bahkan di tembok rumah, mereka bisa berenang dan bahkan terbang. Ya, terbang! Kemampuan beradaptasi yang baik ini juga membuat ular bisa tinggal di berbagai tempat dengan iklim dan tantangan lingkungan yang berbeda, mulai dari pegunungan, pantai, laut, padang pasir dan tempat lain di dunia kecuali di kutub karena suhu dingin yang sangat ekstrem.

        Dalam segi ekosistem sendiri ular memiliki peran yang sangat penting dalam mengontrol populasi hewan lain salah satu contohnya adalah hama seperti tikus. Beberapa jenis ular juga memiliki "tugas" mengontrol populasi ular lain disekitarnya. Makanan ular sangat bervariatif yang terdiri dari invertebrata, ikan, amfibi, reptil, unggas dan terakhir mamalia. Ular juga merupakan sumber makanan bagi predator lain seperti biawak, buaya, ular lain, burung pemangsa dan yang paling terkenal sebagai "pembunuh ular" yaitu garangan. 

        Menghadapi predator pemangsa ular seperti yang disebutkan diatas ular memiliki beberapa strategi defensif juga. Strategi defensif yang paling umum adalah kamuflase dengan lingkungannya. Contoh ular tanah (Calloselasma rhodostoma) yang memiliki corak seperti daun kering atau ular pucuk (Ahaetulla prasina) yang seperti daun atau sulur pohon. Membuat dirinya menjadi terlihat lebih besar juga adalah strategi defensif seperti kobra (Naja sp.) dan ular lanang sapi (Coelognathus radiatus). Ada juga yang memiliki warna yang mencolok untuk menakuti predator seperti ular bambu (Oreocryptophis porphyraceus) atau welang (Bungarus fasciatus). Strategi defensif tersebut adalah strategi defensif yang umum pada ular bersama dengan strategi defensif lainnya.
strategi defensif lanang sapi (coelognathus radiatus)

        Ular merupakan hewan yang banyak disalah mengertikan karena banyak di demonisasi dibanyak cerita, namun pada hakikatnya ular adalah makhluk luar biasa yang tidak kalah bermanfaatnya dengan hewan lain dalam berbagai bidang dan tugas kita untuk melestarikannya.

Salam hangat darah dingin

Sampai ketemu di tulisan selanjutnya.✌

referensi: 
  • The Book of Snakes: A Life-Size Guide to Six Hundred Species from Around the World oleh: Mark O'shea 
  • A photographic guide to the snakes of java oleh: Nathan Rusli
  • https://www.nhm.ac.uk/discover/news/2016/september/study-sheds-light-on-snake-vision.html
  • https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20201203/2335899/data-kasus-terbaru-dbd-indonesia/
  • https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/10368/rata-rata-tiga-orang-meninggal-setiap-jam-akibat-kecelakaan-jalan/0/artikel_gpr